Saturday, February 4, 2017

Landasan Teori Religiusitas atau Spiritual

Definisi dan Pengertian Religiusitas
Bustanudin (2005:8) Membedakan bahasa religi atau agama dengan bahasa religiusitas. Agama menunjuk aspek formal yang berkaitan dengan aturan-aturan dan kewajiban kewajiban, sedangkan religuisitas mengacu pada aspek religi yang dihayati oleh individu di dalam hati. Pengertian religiusitas berdasarkan dimensi dimensi yang di kemukakan oleh Glock and Stark dalam Darto (2016:48) adalah sebrapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, seberapa tekun pelaksanaan ibadah dan seberapa dalam penghayatan agama yang di anut oleh seseorang.


Jalaluddin (2008:12) membedakan pengertian agama berdasarkan asal kata, yaitu al-din, religi (relegere, religare) dan agama. Al-din berarti undang-undang atau hukum. Kemudian dalam bahasa Arab, kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, dan kebiasaan. Sedangkan dari kata religi (latin) atau relegere berarti mengumpulkan atau membaca. Kemudian religare berarti mengikat. Adapun kata agama terdiri dari a= tidak ; gam = pergi, mengandung arti tidak pergi, tetap di tempat atau diwarisi turun temurun. 

Jalaluddin (2008:13) Menyatkan bahwa agama mengandung kata arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi oleh manusia. Iktan yang dimaksut berasal dari salah satu kekutan yang lebih tinggi dari pada manusia sebagai kekutan gaib yang tidak dapat di tangkap dengan panca indra namun memiliki pengaruh yang bersar terhadap aktifitas kehidupan manusia sehari hari. Agama merupakan pondasi bagi individu dalam kehidupan sehari hari

Agama sangat mendorong pemeluknya untuk berprilaku baik dan bertanggung jawab atas segala perbuatannya serta giat berusaha untuk memperbaiki diri agar menjadi lebih baik. Berdasarkan istilah agama dan religi muncul istilah religiusitas. Dalam psikologi, konsep ini sering disebut sebagai religiusitas. Hal ini perlu dibedakan dari agama, karena konotasi agama biasanya mengacu pada lembaga yang bergerak dalam aspek aspek yuridis, aturan dan hukuman, sedangkan religiusitas lebih pada aspek ‘lubuk hati’ dan personalisasi dari kelembagaan tersebut.

Religiusitas diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia, religiusitas merupakan prilaku yang bersumber langsung atau tidak langsung dari nash Abdullah (2005:89) Religusitas diartikan sebagai prilaku yang tahu dan mau secara pribadi menerima dan menyetujui gambaran gambaran yang diwariskan kepadanya oleh masyarakat dan yang dijadikan miliknya sendiri, keyakinannya yang pribadi, iman, kepercayaan batiniah yang diwujudkan dalam prilaku sehari hari Dister (1999:10)

Darto (20016:48) Religiusitas merupakan suatu keadaan yang ada didalam diri seseorang yang mendorongnya bertingkah laku, bersikap dan bertindak sesuai ajaran agamanya, religuistias meruapakan suatu keyakinan dan penghayatan akan ajaran agama yang mengarahkan prilaku seseorang sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.

Fungsi Agama
Jalaluddin (2008:299) Agamam memiliki bebebrapa fungsi dalam kehidupan manusia, yaitu sebagai berikut: 

1. Fungsi Edukatif
Ajaran agama yang mereka anut memberikan ajaran ajaran yang harus dipatuhi. Ajaran agama secara yurudis berfungsi menyuruh dan melarang, kedua unsur sueuhan dan larangan ini mempunyai latar belakang mengarahkan bimbingan agar pribadi penganutnya menjadi baik, dan terbiasa dengan yang baik menurut ajaran agama masing masing.

2. Fungsi Penyelamat 
Dimanapun manusia berada pasti dia pasti menginginkan dirinya selamat. Keselamatan yang meliputi bidang yang luas adalah keselamatan yang di ajarkan oleh agama. keselamatan yang diberikan oleh agama kepada penganutnya adalah keselamatan yang meliputi dua alam yaitu: dunia dan akhirat. Dalam mencapai keselamatan itu agama mengajarkan para penganutinya melalui pengenalan kepada masalah sakral, berupa keimanan kepada tuhan.
Pelaksanaan pengenalan pada unsur (zat supernatural) itu tujuan agar berkomuniakasi baik secara langsung maupun dengan perantara langkah menujukearah itu secara praktisnya dilaksanakan dengan berbagai cara sesuai dengan ajaran agama itu sendiri 

3. Fungsi Perdamayan
Memlalui agama, seseorang bersalah atau berdosa dapat mencapai kedamaian batin melalui tuntunan agama. Rasa berdosa dan rasa akan segera menjadi hilang dari batinnya apa bila seseorang pelanggar telah menebus dosanya melalui: tobat, pensucian ataupun penebusan dosa.

4. Fungsi Pengawasan Sosial
Ajaran agama oleh penganutnya di anggap sebagai norma sehingga dalam hal ini agama dapat berfungsi sebagai pengawasan sosial secara individu maupun kelompok. Ajaran agama oleh pengautnya dianggap sebagai norma, sehingga dalam hal ini agama dapat berfungsi sebagai pengawasan sosial sebagai individu mapun kelompok, karena 
a. Agama secara instansi, merupakan norma bagi pengikutnya
b. Agama secara dogmatis (ajaran) mempunyai sifat kritis yang bersifat profetis (wahyu atau kenabian)

5. Fungsi Pemupuk Rasa Solidaritas
Para penganut agama yang sesama secara psikologis akan merasa memiliki kesamaaan dalam kesatuan iman dan kepercayaan, rasa kesatuan ini akan membina rasa solidaritas dalam kelompok maupun perorangan, bahkan kadang kadang dapat menimbulkan rasa persudaraan yang kokoh.

6. Fungsi Transformatif
Ajaran agama dapat merubah kehidupan kepribadian seseorang atau kelompok menjadi kehidupan baru sesuai ajaran agama yang di anutnya. Kehidupan baru yang diterimanya berdasarkan ajaran agama yang dipeluk kadang kala mampu merubah kesetiaannya kepada adat atau norma.

7. Fungsi Kreatif
Ajaran agama mendorang dan mengajak para penganutnya untuk bekerja produktif bukan saja untuk kepentingan pribadinya sendiri tetapi juga untuk kepentingan orang lain

8. Fungsi Sublimatif
Ajran agama megkuduskan segala usaha manusia, bukan saja yang bersifat agama ukhrawi, melainkan juga yang bersifat duniawi. Segala usaha manusia yang tidak bertentangan dengan norma – norma agama bila dilakukan atas niat yang tulus karena dan untuk Allah merupakan ibadah. Berdasarkan uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa fungsi agama bagi manusia yaitu fungsi edukatif, fungsi penyelamat, fungsi perdamayan, fungsi pengawasan sosial, fungsi pemupuk solidaritas, fungsi transformatif, fungsi kreatif dan fungsi sublimatif.

Hal ini dapat di simpulkan bahwa agama mempunyi fungsi terhadap kehidupan manusia diantaranya : fungsi edukatif, fungsi penyelamat, fungsi perdamayan, fungsi pengawasan sosial, fungsi pemupuk solidaritas, fungsi transformatif, fungsi kreatif dan fungsi sublimatif.

Dimensi-Dimensi Religiusitas
Negara Indonesia merupakan negara republik yang menggunakan UUD 1945 sebagai dasar negaranya, di Indonesia diakui 6 agama yaitu : Islam, Khatolik, Protestan, Hindu, Bhuda dan Khonghuchu, dari masing masing agama memiliki dimensi dimensi religiusitas yang berbeda, akan tetapi juga memiliki persamaan dalam berbagai hal, khususnya dalam hubungan horisontal atau sosial. Hubungan fertikal masing masing agama tidak bisa di campu aduk dan semua memiliki prinsip yang berkaitan dengan tauhid.

Secara umum Glock and Stark (1965) dalam Darto (2016:93) mengatakan bahwa terdapat lima aspek dalam religiusitas, yaitu :

1. Religiutas Belief (the idiological dimension)
Religiusitas belief (the idiological dimension)atau juga disebut dimensi keyakinan adalah tingkatan sejauh mana seseorang menerima hal hal yang dokmatik dalam agamanya, misalnya kepercayaan kepada tuhan, malaikat, surga dan neraka. Meskipun harus di akui setiap agama tentu memiliki seperangkat kepercayaan yang secara doktrinerberbeda dengan agama lainnya, bahkan untuk agamanya sendiri muncul kepahaman yang berbeda dan tidak jarang berlawanan. Pada dasarnya setiap agama juga menginginkan adanya unsur ketaatan bagi setiap pengikutnya, jadi dimensi keyakinan lebih bersifat doktriner yang harus di taati oleh penganut agama. Sebagai contoh, dimensi keyakinan dalam agama islam diwujudkan dalam pengakuan (syahadat) yang diwujudkan dengan membaca dua kalimat syahadat, bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

2. Religiusitas Practice (the ritual demension)
Religiusitas practice (the ritual demension) yaitu merupakan tingkatan sejauh mana seseorang mengerjakan kewajiban kewajiban ibadah dalam agamanya, unsur yang ada pada dimensi ini merupakan pemujaan kultur serta halhal yang lebih menunjukan komitmen seseorang dalam agama yang dianutnya. Wujut dimensi ini adalah prilaku masyarakat pengikut agama tertentu dalam menjalankan ritual ritual yang berkaitan dengan agama. Sebagai contoh, dimensi praktek dalam agama islam dapat dilakukan dengan menjalankan ibadah solat, puasa, zakat, haji ataupun praktek muamalah lainnya.

3. Religius Feeling (the experiental dimension)
Religius Feeling (the experiental dimension) atau bisa disebut dimensi pengalaman adalah perasaan-perasaan atau pengalaman yang pernah dialami dan dirasakan, misalnya merasa dekat dengan tuhan, merasa takut berbuat dosa, merasa doanya dikabulkan, diselamatkan oleh tuhan dan sebagainya. Kalau dalam islam dimensi ini dapat terwujud dalam perasaan dekat atau akrab dengan Allah, perasaan bertawakal (pasrah diri dalam hal yang positif) kepada Allah, Perasaan khusuk ketika melaksanakan Shalat dan berdoa, perasaan tergetar ketika mendengar adzan atau ayat-ayat Al Qur’an. persaan bersyukur kepada allah, perasaan mendapat peringatan atau pertolongan dari Allah.

4. Religius Knowledge (the intellectual demension)
Religius Knowledge (the intellectual demension) atau dimensi pengetahuan agama adalah dimensi yang menerangkan seberapa jauh seseorang mengetahui tentang ajaran ajaran agamanya, terutama yang ada di dalam kitab suci manapun yang lainnya, paling tidak seseorang yang beragama harus mengetahui hal hal pokok mengenai dasar dasar keyakinan, kitab suci dan tradisi tradisi. Dimensi ini dalam Islam menunjuk kepada seberapa tingkat pengetahuan dan pemahaman muslim terhadap ajaran ajaran agamanya terutama mengenai ajaran pokok agamanya, sebagaima yang termuat dalam kitab sucinya.

5. Religius Effect (the consequential demension)
Religius Effect (the consequential demension) yaitu demensi yang megukur sejauh mana prilaku seseorang dimotifasi oleh ajaran ajaran agamanya dalam kehidupan sosial.

Baharuddin dan Mulyono (2008:174) Kesinambungan pengalaman seseorang dalam kehidupan beragama sedikit demi sedikit semakin mantap sebagai suatu yunit yang otonom dalam kepribadiannya, unit itu merupakan suatu organisasi yang disebut “Kesadaran Beragama” sebagai hasil peranan fungsi kejiwaan terutama motivasi, emosi dan itelegensi. Motivasi berfungsi sebagai daya penggerak  mengarahkan kehidupan mental, Emosi berfungsi melandasi dan mewarnainya, sedangkan Intelegensi yang mengorganisasi dan memberi pola.

Gordon W. Allport (1962) dari hasil penelitiannya dapat menyimpulkan 6 ciri ciri sentimen beragama yang matang, yaitu adanya diferensiasi, dinamis, produktif, komprehensif, dn keiklasan pengabdian, berdasarkan pendapat Gordon W. Allport tersebut maka dapat dikembangkan bahwa karakteristik orang yang telah matang beragamanya apa bila memiliki enam ciri khusus yaitu (1) diferensiasi yang baik, (2) motivasi kehidupan beragama yang dinamis (3) pelaksanaan ajaran agama secara konsisten dan produktif, (4) pandangan hidup yang komprehensif, (5) pandagan hidup yang integral (6) semangat pencarian dan pengabdian kepada tuhan.

Fungsi Religiusitas Dalam Manajemen Organisasi
(Hakim dan wijayanto, 2007:39) Manajemen yang tidak dilandasi oleh keteguahan spiritual/religiusitas pada pengelolanya akan menghasilkan tingkat produktifitas yang kurang maksimal, beberapa kondisi depresi akan melanda setiap individu yang bekerja diorganisasi, depresi yang dialami oleh pegawai mempunyai kecendrungan terus meningkat, fenomena depresi ini antara lain disebabkan oleh:

1. Dikejar kejar pekerjaan yang semakin menumpuk hingga menimbulkan stres yang sangat berat, sementara hasil kerjanya tidak mendapatkan apresiasi atau benefit sama sekali (masalah ini diasumsikan sebagai tekanan depresi 1).

2. Gaji, grade jabatan sudah lama tidak naik, sementara teman teman yang lain sudah banyak yang mendapatkan promosi jabatan atau grade (depresi 2)

3. Klien marah marah setiap hari tanpa alasan yang jelas atau tanpa negosiasi atau mencari solusi terlebih dahulu tentang permasalahannya (depresi 3)

4. Dan masih banyak lagi hal lainya dalam organisasi 
Landasan Teori Religiusitas atau Spiritual

Depresi yang dialami oleh pegawai berpengaruh terhadap produktifitas kerja. Oleh karena itu, perlu kekuatan spiritual/religiusitas pegawai untuk membentengi timbulnya depresi yang muncul di organisasi. Ada perbedaan tingkat produktifitas antara pegawai yang memiliki religiusitas yang tinggi dan pegawai yang memiliki religiustias yang rendah, gambar 2.1 diatas memberikan ilustrasi produktifitas yang dipengaruhi oleh depresi dan dampaknya bagi organisasi. 

Seseorang yang telah beberapa lama bekerja disebuah organisasi yang sehat, pernah merasakan tekanan depresi. Individu yang mengalami depresi akan mengalami dampak negatif terhadap organisasi, misalnya : realisasi penjualan dan produksi menjadi menurun, realisasi kerja sama dengan klein menjadi terhambat, yang bersangkutan akan menjadi penghambat di dalam tata kerja yang ada di area tugasnya, akibatnya pekerjaan yang terkait lainnyapun ikut terhambat, dan secara keseluruhan produktifitas akan terhambat atau menurun.

Landasan Teori Religiusitas atau Spiritual

Salah satu untuk mempertahankan dan meningkatkan produktifitas kerja pegawai adalah dengan cara memotivasi dan memperkuat religiusitas pegawai. Meningkatkan religiusitas pegawai bertujuan untuk meningkatkan daya tahan berbagai goncangan jiwa, khususnya yang disebabkan oleh berbagai permasalahan yang timbul di lingkungan kerja. Religiustias yang tangguh mampu meningkatkan produktifitas kerja pegawai. Gambar 2.2 berikut ini meunjukkan  bahwa kekuatan religiusitas dalam manajemen organisasi benar benar berfungsi untuk:

1. Memperkuat tingkat elestisitas manajemen organisasi dalam meredam setiap goncangan eksternal dan permasalahan internal yang terkait dengan pengelola organisi pegawai, sistem dan prosedur dan kondisi SDM, Kekuatan spiritual/religiusitas dapat berperan meminimalisasi dampak negatif berbagai goncangan itu bagi kinerja organisasi.

2. Sebagai salah satu solusi yang paling efektif, efisien dan paling cepat dalam memulihkan kondisi kinerja organisasi setelah terjadinya beberapa goncangan permasalahan, khususnya dalam berbagai kondisi internal.

3. Sebgai motivator yang paling kuat untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kinerja.

4. Menjadi pemicu yang kuat di dalam membangun good Corporate Governace.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan Religiustias merupakan salah satu peranan penting sebagai penyempurna aktivitas kerja yang harus dimiliki oleh pekerja selain memiliki kemampuan kecerdasan emosional dan logika. Pekerja yang memiliki tingkat Spiritual/Religiusitas yang tinggi, ujian atau depresi yang dihadapinya dijadikan sebagai cobaan atau memperkuat tingkat kedewasaan religiusitasnya

Daftar Pustaka
Prof. Dr. H. Jalaluddin. 2008. Psikologi Agama. Jakarta: PT Rajagrafindo persada
Baharuddin, Mulyono. 2008. Psikologi Agama Dalam Prespektif Islam. Malang: UIN Malang Press
Dr. Darto, Mariman, 2016. Prilaku prososial bagi revolusi mental: Seri penelitian. Malang: Penerbit Selaras Media Kreasindo  
Rivai, Viethzal. 2008. Performance Apprasial: Sistem Yang Tepat Untuk Menulai Kinerja Karyawan dan Meningkatkan Daya Saing Perusahaan. Jakarta: TP. Raja Grafindo Persada
Fitriastuti, Triana. 2013. THE INFLUENCE OF EMOTIONAL INTELLIGENCE, ORGANIZATIONAL COMMITMENT AND ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR TO THE EMPLOYEE PERFORMANCE:JDM Vol. 4, No. 2, 2013, pp: 103-114
Rita Susanti. 2015. HUBUNGAN RELIGIUSITAS DAN KUALITAS KEHIDUPAN KERJA DENGAN ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB) PADA KARYAWAN: Jurnal Psikologi, Volume 11 Nomor 2, Desember 2015 hlm:98-99
Hakim dan Wijayanto, E 2007. Spiritual Based Management: Memimpin dan Bekerja  Berbasis Spiritual. Jakarta 
Suprianto. 2012. ” Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual terhadap Kepemimpinan Transformasional, Kepuasan Kerja dan Kinerja Manajer (Studi di Bank Syari’ah Kota Malang)”. JURNAL APLIKASI MANAJEMEN, VOLUME 10. NOMOR 4 hlm :696-697
Mangkunegara, Anwar Prabu. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Remaja Rosdakarya. 
Robbins, Stephen P., 2006. Perilaku Organisasi, Jakarta: PT Indeks, Kelompok Gramedia.
Mangkuprawira, sjafri. 2011. Manajemen Sumber Daya Manusia Strategik. Edisi Kedua. Bogor : Ghalia Indonesia.

Landasan Teori Religiusitas atau Spiritual Rating: 4.5 Diposkan Oleh: abdul aziz

 

Top